Thursday, September 11, 2008

~~TO WHOM IT MAY CONCERN, STOP STEALING MY IDENTITY~~

That's so many things happened today >> 11092009. A "stranger" been calling me, jumped into so many questions which I don't know what's going on and flooded me into a puzzle. Im full of stressed, I'm stuck in the middle of nowhere and yes, it blew up my higher TEMPER!!!! Luckily I have Mr Kekasih around which calmed me down, taking all the stupid STRESSED, gave me the best medicine (hugs) and wipes all the tears with the best smiled ever.

To the person that've been using my identity and cheated people around them, let me tell you this...just be yourself and stop making idiot things. I do not know why you did all that, I do not care whoever you are and what you did was completly a shit! I am far away better than you and you can't be me, no matter how good you've been tried. Treat people like how you want to be treated. Stop being a LIAR. What goes around will definately comes around.

Im cursing your life for making me in deeply shit and also other people. Trust me, how far you've been running, sooner or later you will be caught. In Malay, this is the best word I will say to you....MUNAFIK ADALAH KEKEJIAN SEBAGAI MUSLIM DAN JIKA KAMU SEDAR ATAS KEMUNAFIKKAN KAMU, BERHENTI DARI MEMBOHONGI UMAT KERNA IA HANYA MENJADIKAN KAMU PARA TEMAN TEMAN SYAITAN YANG MENYESATKAN.

I've got your picture and if you do not stop all these, it will be uploaded very soon. Im not somebody but I have the superficial power to send you to hell. Take my word!

Tuesday, September 09, 2008

||Azimat Cinta||


Kau ingin tahu
Sebesar mana kasihku padamu
Sekuat mana cinta yang kusemai
Seutuh mana janji kupatri

Kau tanyakan padaku
Laut itu luas
Apa luas lagikah cintaku?
Awan itu tinggi
Apa tinggi lagikah sayangku?
Ombak itu cantik
Apa cantikkah perasaanmu padaku?

Kau lemparkan aku seribu persoalan
Mengapa kau menjadi pilihan
Mengapa kau ku jadikan teman keakhir hayat
Mengapa kau diwar war jejaka terhebat

i.
Ini
jawabku
azimat buatmu
tangkal kasihku
janji manis untukmu

ii.
Ini
kata hatiku
bola rindu yang kuutus
jambatan kasih ku titipkan

Aku cinta kamu seperti hari ini hari terakhir buatku
Aku cinta kamu seperti esok kau tiada lagi disisiku
Aku cinta kamu seperti malam tiada lagi untukku
Aku cinta kamu seperti tiada matahari esok menemaniku
Aku cinta kamu seperti nyawaku bakal dicabut sebentar lagi

i.
Tatkala matamu kutatap
Esok adalah hari terakhir buatku
Entah sempat entah tidak aku bahagiakan kamu
Maka hari ini aku mencintaimu seperti esok tiada waktu lagi

ii.
Tatkala kucuri senyumanmu
Ibarat esok nafas ini tiada lagi turun naik
Gelak tawa tiada lagi
Maka hari ini aku mencintaimu seperti esok tiada waktu

iii.
Tatkala kukucup tanganmu
Seolah kuharapkan syurga bisa menemukan kita
Jemari itu yang akan membelaiku di dunia kekal
Tak mahu lepaskan bibit indah babak rindu
Maka hari ini aku mencintaimu seperti esok tiada waktu

iv.
Tatkala kudakap erat tubuhmu
Hangatnya seolah lunturkan dingin nota sejarah lalu
Bahangnya membangkitkan segala gelora gugup
Jangan hentikan dari terus memelukku
Maka hari ini....
Ya maka hari ini seolah....
tiada esok buatku untuk mendakap hangat tubuhmu

Pepatah sudah berlagu
Bertanya tentang kesetian sang sejoli bercinta
Apa kalau aku menjadi bunga
Sudikah kau menjadi kumbangnya?
Apa kalau aku menjadi bulan
Sudikah kau menjadi pungguknya?
Apa kalau aku menjadi duyung
Sudikah kau menjadi pantainya?

Jika kau mahu tahu
Sejauh mana cintaku
Maka jawapanku tak bisa berubah
"Aku mencintaimu seperti esok tiada waktu untuk kita"
"Aku mencintaimu seperti hari ini hari terakhir kutatap wajahmu"
"Aku mencintaimu seolah kau mahu pergi tinggalkan aku buat selamanya"

Maka
Aku mencintaimu dengan kudrat yang dikurniakanNYA
Menghargai dan memelukmu seperti esok aku bakal pergi untuk selamanya
Dan hari ini adalah hari terakhir aku mencintaimu

||Izinkan Aku Menumpang Kasihmu||


Terungkap kata manis bersulam madu tatkala aku merenung ke dasar matanya. Redup mega menyinar menggalas segala kasih yang kubawa ketika hati ini kutanam di dalam kalbunya. Aku tak bisa menguraikan simpul cinta yang terbelit di setiap nafas nadi yang berdenyut. Kekalutan melihat senyum ikhlasnya sentiasa membawa aku terbang ke langit biru.

Aku kenali cinta setelah dia tulus menyemai benih kasih, seikhlas semulus baldu kapas yang berterbangan di dada hati. Sinarnya gelora rindu membungkus semua resah yang kumiliki. Ayat ayat cinta tiada lagi untuk kungkapkan padanya kerna dia sering membaluti bait kataku dengan keikhlasannya. Indahnya mengenali peribadimu kasih, membuntukan segala jalanan hidupku. Aku hanya mahu hidup dengan kejujuran yang kau beri, aku tak mahu berganjak dari paksi yang kuberdiri, aku ingin sekali terus lena dengan hembusan bayu tenangmu.

Kau tak perlu tahu apa itu cinta kerna kau adalah cinta itu, kau tak perlu kenali rindu kerna kau jutawan bunga rindu, kau tak perlu kupas isi tulus kerna kau dijadikan dari kejujuran itu. Kau adalah pelangi buatku, sinar yang tiada berpenghujung.

Mari aku bawakan segala mimpi indah untuk mengulit lenamu. Bersamaku, kau pasti kenal indah purnama malam. Aku hanya pemburu rindu sedang kau bayu yang menghembus di kalbu. Sesunggunya tuhan telah menciptakan kau untuk melengkapi hari hari terakhirku dan aku dijadikan suria kehidupanmu.



Di hempas ombak
Terdampar buih
Menanti waktu pulang ke laut
Begitu rindu
Di pisah takdir
Meniti saat bersulam cinta

Lihat… lihat…
Ke dalam mataku
Sinarnya menyala
Lihat… lihat…
Ke dalam mataku
Cintamu bertakhta dihati

Sebelum ku kenal
Dirimu siapa
Aku tak kenali
Apa itu cinta
Setelah ku kenal
Dirimu sebenar
Kau cinta sejati
Ku sandarkan jiwa

Di gilis angin
Tercarik awan
Menanti detik sebelum hujan
Begitu sendu
Di guris resah
Meniti hari bersulam tangis

Takkan berganjak pendirianku ini
Selagi kita tak kembali bersatu
Selamanya
Takkan berubah perasaan ini terhadapmu
Biar digugat, biar dicabar, biar dihalang

~~Antara Aku dan Bulan tiada noktahnya~~

Malam ini warna jingga awan tampak tenang dan dingin. Seperti malam malam lalu, aku tak akan pernah berhenti melihat dan merenung langit langit mega yang tak bisa ku ramal apa cerita di balik sana. Alam asyik menangis, membawa sepi sepoi angin kudus pilu. Ramadhan yang membawa erti bahang, hingga kini masih lagi menyelimutkan aku dengan sejuk menggigit tulang rusuk.

Khabar padaku malam sepi, apa yang merundung jiwa kekabumu? Aku mahu terus menikmati indah bulan. Bintang bertaburan tak sudi menjengah, berarak mendung awan itu menutupi pintu wajahmu sang teman di dada langit.

Ku langkahi esok dengan bertemankan cinta cinta buntu pada bulan walhal jiwa ini penuh rasa kebahagiaan. Sudilah kiranya teman di langit biru menemani kuntum bahagia yang kumiliki. Kicau cengkerik tidak kudengari, agas menggigit kurang mengulit, aku berteman rindu yang sepi.

Ku usap rambut mengurai, lantas dihembus bayu malam. Ke mana kamu bulan purnama, usah sembunyi di balik gugusan awan cemburu. Kau harus muncul menemaniku seperti mana aku berjanji menemanimu.

Beberapa minggu lagi, aku bakal melangkah setapak ke alam hidup berdua bersama dia yang menjanjikan bahagia. Mampukah aku mencintainya sepenuh raga, gusar gelorakan jiwa walau hati utuh setia. Sang kekasih sering berikan aku belai cintanya, sedang aku tak bisa putus menganyam doa kudus mengharap berkekalan jalanan ambang kasih.

Bintang timur apa akan mengiringiku dengan pari parinya yang anggun? Aku mahu mengait corak kasih seindah tulus budinya. Ikatan pertunangan yang sering dihambur kata kata dugaan membuatkan aku gusar. Di mana kamu bulan purnama, aku rindu sinar tulusmu. Timbullah menemaniku, menemani kasihku dengannya agar kau bisa menjadi saksi utuhnya kasih dan jujurku buat sang jejaka istimewa.

Sepiku bakal dikuburkan, lorong hitam musim lalu bakal ditalkinkan dan kini aku lihat lebuhraya damai yang bakal ku tempuhi bersama sang jejaka yang kental semangat zahir dan batinnya.

Walau bahagia bakal mengusung jalananku, kasihku padamu alam malam takkan tegar lumpuh.

Aku pencinta setia, seperti mana aku sering rindukanmu bulan, bintang dan awan pelangi.


Saturday, September 06, 2008

||Lama kasihku tidak bertuan||

Renung makrifat padamu bintang
Bawa jutaan rasa berbeda
Berbalam menujah minda penuh kekalutan
Hujungnya ada kilau ajaibmu

Tenung tembus gugus rasa
Aduh kuat benar panahan buntu
Kabut jiwa kalut
Hujungnya ada kilau ajaibmu

Kerdipan lesu mata memanahmu bintang
Gugusan kejoramu menggamit rasa rasa rindu
Malam bisa jadi gugup
Hujungnya ada kilau ajaibmu

Apa makna gelora
Ibarat gelombang ada turun naiknya
Laksana ombak ada tinggi rendahnya
Hujungnya ada kilau ajaib

Bintang itu bintang asmara
Di tenung ada rasa cinta
Di dakap ada rindu melanda
Jauh atau dekat
Kilaumu ada keajaibannya

Mari terus temani bulan
Yang sepi di balik kabus kabus pelangi malam
Warnanya hitam pekat melekat
Ada ketikanya merah memikat
Bulan dan bintang
Ada ada saja ajaibnya

||Ramadhan Ini Ramadhan Penghubung Kasih||

Ramadhan sudah hampir seminggu berlalu. Segala kenangan di Kota London yang pernah di alami mula dirasai kerinduannya. Jauh dari hiruk pikuk jalan raya yang sesak mejelangnya waktu berbuka, tiada bazaar Ramadhan yang memeriahkan sendu puasa, malah tidak ada lagi rindu pada tanah air tercinta.

Kali ini Ramadhan lebih bermakna dari tahun yang lalu, mencari sinar di bulan mulia ini di samping keluarga tercinta membuatkan hati mula sayu. Indah sangat rasa yang berbunga di hati, apatah lagi melihat adik adik dan ayah ibu di sisi setiap kali waktu berbuka tiba.

Tahun ini tidak seperti tahun-tahun lalu, sekembalinya dari tanah Inggeris yang banyak membawa cerpen pilu dalam diari hidup mula hanyut dari lombong hati. Bersama insan baru yang bakal menemani sepanjang hayat banyak memberikan semangat dan keazaman baru dalam diri. Aku tidak lagi murung dan belenggu, walau ada ketikanya tak dapat kusorokkan gerutu yang mencabuli dasar hati namun ia sudah menjadi kenangan buat aku dan sejarah hidupku.

Ramadhan ini melunturkan debu debu sayu yang pernah aku kemut tahun lalu. Aku mencari sinar, di mana tak bisa ku temu, apa warnanya tak tergambar dikalbu dan kini doaku mula mendapat restu Illahi. Alhamdulillah, aku mula mencintai diri, menyayangi hari hari esok yang hadir dalam corak berbeza.

Syawal tahun ini membawa lembaran baru lagi, dan sesungguhnya aku hanya mampu memohon agar kebahagiaan itu bisa kugapai hingga ke akhir hayat. Semalam yang kelam sudah aku kuburkan dan ya....sudah aku hapuskan. Aku hanya mahu mengumpul arca arca gemilau yang pernah meliputi segenap perjalanan kehidupanku.

Ramadhan ini sungguh bererti, ramadhan ini ramadhan yang bakal aku rindui, ramadhan ini ramadhan membuka lorong lorong kasih, ramadhan ini kupohon restumu Illahi, usah di duga lagi insan kerdil sepertiku ini. Aku mahu terus berselingkuh di balik keindahan awan yang gebu.

Tuesday, September 02, 2008

~~Salam Ramadhan Buat Kalian~~


Sempena kehadiran bulan Ramadhan Al Mubarak yang mulia ini, Nini memohon ampun andai ada tersilap kata terlanjur perbuatan sepanjang kalian mengenali Nini. Semoga Ramadhan ini dapat memberikan lebih nikmat buat kita dan segala dosa kita sesama umat serta Yang Esa bisa diampunkan.

Selamat Menjalani Ibadah Puasa.

Thursday, August 28, 2008

~~Utusan Ini Utusan Peribadi Buat Citramaya & Gadis Tabah~~

Tatkala malam mula menyusur pergi meninggalkan hari yang panjang, di kesempitan waktu itulah aku mencuri kesempatan yang ada untuk menari lagi di pentas maya. Jemari ini tak henti henti mengasak aku untuk terus membicarakan minda yang umpama roda, sekejap kalut sekejap damai.

Menjengah alam maya temanku citramaya membuatkan aku sayu dengan doa kudus yang dipanjatkan untukku. Terima kasih citramaya, kamu umpama haruman mawar yang sering melilitku dengan merbak baumu. Persahabatan kita ini tidak lagi seperti rakan, sebaliknya umpama saudara sendiri hingga tak berjumpa bisa membibitkan rindu.

Temanku,
Perjalanan itu bukan lagi satu suratan malah ia merupakan perjuangan. Kau harus berjuang untuk memiliki kebahagiaan yang kau mahu, semak samun yang terlukis di jalananan harus kau cantas dengan kekuatan semangatmu. Nun jauh di hadapan sana, kau pasti lihat luasnya alam, damainya mata meratap dan tenangnya angin mengiringimu. Segalanya bisa kau miliki jika kau terus mengumpul semangatmu agar tidak kalut dan keluh meredah belukar itu.

Temanku,
Semalam yang ngeri itu sebenarnya telah membina jambatan kekuatanmu esok hari. Kita mungkin mengeluh namun usah matikan semangatmu itu kerna perjuangan tidak berhenti tiba tiba sebaliknya harus terus dijulang hingga akhir nafasmu. Kau tak seharusnya melihat kebahagiaan orang lain dan menyesali takdir buatmu, lantas bangkit dari lumpuh itu akan membuatkan kau berhati hati meredah bukit bukau yang menggerunkan. Aku tak akan pernah berhenti mendoakan kebahagiaan dan ketenanganmu. Miskinnya aku untuk berkongsi wang ringgit denganmu, tapi aku yang kaya dengan cerita cerita semangat ini pastinya tidak akan lokek untuk terus berkongsi segala kata kata hikmah buatmu. Kau harus tahu, aku sangat mengasihi persahabatan ini.

Aku utuskan jua perutusan ini buat temanku 'gadis tabah aka Fied' agar kau tak akan menghumban dirimu ke lembah sepi. Beberapa waktu yang lalu, kesepian dan kepiluan mungkin kau rasai hingga ketakutan menyelubungi jasad dan ragamu. Sedarkah kamu bahawa bahagia itu milik kita semua, milik setiap insan yang bernyawa. Jambatan cinta yang telah kau cuba bina mungkin tidak ditakdirkan membawamu kehujungnya, namun kau harus cekal dan sanggah segala kekejaman yang pernah kau lalui. Kau teristimewa temanku.

Gadis tabah, kau usah hanyut dengan kehancuran semalam. Sesungguhnya, tuhan amat menyayangi kamu, justeru itu kau diduga ke tahap derita. Kukirimkan sejambak bunga buatmu, agar setiap kelopaknya memiliki kasih yang aku semai. Senyuman manismu usah kau hentikan kerna aku lebih tega melihat bibirmu menguntum senyum dari melihat airmatamu bergenang di lautan kelopaknya.

Ambillah kataku anfai kau mahu, sebaliknya jika tidak memberikan kamu tenang, aku sanggup menjadi pari pari menghibutkan sendu keroncongmu. Mari aku ubati sedikit kegagalan itu.

Wednesday, August 27, 2008

~~Pari Pari Muncul Lagi~~

Malam itu tika leka merenung bintang di langit, aku disapa pari pari yang lama menyepi dan menghilang. Entah di mana kamu menghilang, sudah rindu bangat aku menantikanmu. Aku mendakap pari pari cantik itu, membayangkan alangkah indahnya jika wajah sesinar kamu.

"Kamu dalam bahagia? Apa cinta itu benar kamu rasai tika ini?", sapaan lembut pari pari kayangan menyentak aku dari bicara sama bintang.

"Aku rasakan bahagia, tapi apakah itu namanya cinta? Aku rasakan rindu, apakah cukup untukku khabarkan seisi alam bahawa kalbu dipahat kasih itu?", bisikku padanya

Pari kayangan membisu, terbang melilit putaran lawan jam. Renungannya penuh sayu, sentuhan mula merayap ke seluruh wajahku.

"Pada wajahmu ku lihat sinaran gemilang, hatimu yang luluh kini kian berkilau. Mimpi ngerimu sudah lewat pergi meninggalkan cinta lalu, ku sadari kau hampir menuju apa itu puncak bahagia", bingkisnya padaku penuh berlagu

Bolehkah aku terus ditemani kamu si pari pari? Sungguh menenangkan sungguh mendamaikan hingga melihatmu sahaja sudah membuatkan aku nyaman di dada. "Aku masih kalut, buntu kadangkalanya namun tidak tahu dari mana kekuatan itu datang dan menghambat segala rasa itu.", tunduk aku berbicara sambil mata ku pejam erat erat.

"Renung aku wahai si manis, usah kau kalutkan fikiranmu. Hatimu umpama kelopak bawang, senipis sutera. Lihat ke dalam hati dia yang kau puja, sentuh selembutnya dan jangan bawakan gusarmu melewati dinding bahagia. Bukankah katamu dada kian bergetar tatkala mata kalian bertautan?", terus didakapnya kepalaku yang penuh buntu.

"Besar mana lagi dugaan esok pari pari?", soalku

"Pada Illahi harus kau tanyakan, pada Yang Esa harus kau sujud dan pinta jawapan", senyum dan manis benar wajah mulus si pari kayangan.

"Kamu tahu betapa debarnya jantungku bila mana dugaan mencelah? Aku bisa tandus dalam gugup cobaan. Lantas bagaimana aku harus membelai sebutir hati yang jujur dan mulus itu?", ku tujah persoalan demi persoalan.

"Segalanya dalam tanganmu, sepenuhnya dalam mindamu, sekerasnya dalam getus hatimu. Senyumanmu bisa memanah seluruh raganya, tatkala kamu buntu lemparkan sahaja gusar itu lantas berikan senyuman ikhlas yang menambat hatinya", sambil bicara dengan indahnya.

"Usah kamu berlalu pari pariku, jangan biarkan gundahku berleluasa. Temani aku sepanjang gelora, dodoikan aku kala gembira."

Sambil berlalu menongkah gelap awan malam, pari pari hanya berikan aku sebutir ciuman kasih dan dakapan penuh cinta. Katanya, aku harus sendiri menempuh alam ini.

Wahai bulan peneman setia, matahari memberi ceria, aku butuhkan segala semangat yang hilang. Usah biarkan sepi menjerut hati! Apa adakah warna pelangi lewat malam begini?

Monday, August 25, 2008

~~Risikan Membawa Hajat~~

Berarak waktu berlalu, terlalu pantas hingga tarkial kial mencari arah tuju. Debaran mula memuncak dalam perjuangan kehidupan ini. Seringnya, tangan ditadah memohon pada ILLAHI, ampunkan setiap khilaf dan perkenankan hajat hambamu yang daif ini. Aku hanya mahu menghidu dan memeluk cinta cinta agung yang bisa di bawa ke dunia yang kekal di sana.

Meramal dengan dangkal, memikir sepenuh keazaman, lantas aku membenteng tugu hati, menerima lamaran jejaka misteri. Kekecewaan lalu bukan musabab mengapa mendung tidak harus berlalu, kami impikan pelangi, kami mahukan sinar mentari dalam meniti sisa hidup yang berbalam ini.

Benar kata pujangga, melangit menebar impian belum pasti mencambah benih di bumi. Bertahun mana kita merancang, jika bukan untuk kita maka bukanlah tercipta untuk kita. Mencongak waktu yang lumpuh dengan kenangan sudah dinesankan, kini bunga mekar sedang mewangi untuk disunting. Biar baru bercambah, namun aku yakin benar kekuasaan ILLAHI.

InsyaALLAH, atas restu Yang Maha Berkuasa, Oktober 2008 menjadikan satu lagi detik indah buat kami. Kamu usah bicara sendu bulan, aku sering rindukan kamu seperti mana kau rindukan aku.

p/s : En Kekasih pastinya tidak gemar aku melakar wajahnya di sini, malu mungkin? atau bimbang ada ramai yang makan hati ;)


Orak langkah menuju gerbang bahagia


Ibu-mu Ibu-ku Jua


Senyum Penuh Rahmat


Mummy still love Farysh tho mummy have Mr Kekasih ;)

Sunday, August 24, 2008

~~Kasih...Utusan ini buat tatapan jiwamu~~

Teman yang lama tak kutemui, maaf apabila sisipan kesibukkanku menjadikan kamu jauh dari melewati hari hari seperti biasa bersamaku. Lewat waktu ini, aku kalut menghitung masa untuk dibahagikan buat kalian, teman perjuangan dan keluarga hingga waktu untukku manjakan diri juga tidak bisa dihitung lagi.

Desakkan tugas di pejabat semakin menghimpit, pencak gelanggang politik negara juga tak henti kalut terutamanya sejak drama liwat muncul kembali. Di kesibukkan warkah Permatang Pauh mempertaruhkan perjuangannya, aku sibuk mengatur babak baru dalam kehidupanku.

Risikkan pihak keluarga 'kasihku' menghantar rombongan untuk menyatukan kami, walau cinta baru dibajai namun Yang Esa sudah membentangkan gerbang bahagia buat tulusnya cinta ini. Hanya nafas lega yang disisipkan ucap Alhamdulillah sahaja yang bisa aku bingkiskan tatkala keluarga kami bertemu mata.

Pesanan ini aku mahu bisikkan terus ke dalam nuraninya :

"Kalau bisa ku kumpul semua semangatku yang mati dan hidupkan kembali, akan pasti kutiupkan semuanya ke dasar jiwamu agar kau tegar melihat ketulusanku. Dari saat matamu menusuk deras ke dalam hitam pekat mataku, terlihat sudah keikhlasan hatimu. Marini yang lama mati, cuba hidup kembali satu ketika dahulu tapi gagal meraih cinta yang utuh. Kehadiranmu membuatkan aku mula mengisi kotak janji, aku mahu menjadi yang terbaik buatmu selagi aku menjadi aku dan tidak tuhan rentap keperibadianku. Aku mahu menjadi yang terindah buatmu terus mengasihiku tanpa ada batas dan jurangnya. Aku juga mahu menjadi milikmu yang sah, menjagamu dan memanjakanmu. Di satu hari nanti, aku juga mahu kamu membelai aku dan menjadikan diriku bidadari dunia akhirat.

Kalau bisa kau dengar hati ini menjerit, kau pasti lari lintang pukang. Jiwaku tersepit antara nyata dan maya, satu masa dulu aku mahu terus tidur dan mati dalam takdir yang menyuratkan semua ini. Aku tak mahu lihat apa itu bahagia kerna pasti ada bau bau derita, dangkal emosiku tak bisa kau terjah kerna jasad ini tak sempurna yang kau sangka. Namun, kau pimpin hingga aku bisa terbang dan bebas tidak seperti sebelumnya. Istimewanya keperibadiaanmu buatkan aku tak mahu lagi menoleh luka semalam. Kau ciptaan Yang Esa yang paling teristimewa. Mahukah kau terus mencintai aku? Mungkinkah kau akan menerimaku jika aku bukan aku? Kasihkah kau padaku jika aku berlalu tanpa kerelaanku?

Apa pun yang aku renungkan, fikirkan dan mimpikan...kau harus tahu kau itu yang terbaik buat aku. Pastinya tiba masa itu untuk kau dan aku bina hidup yang sangat bahagia, sebahagia yang kau impikan dan aku dambakan. Aku cinta kamu dari pertama kali matamu menusuk kalbuku."

Cukup dulu ketika ini, aku tak bisa lagi menari di papan maya kerna hati mula sayu mengenang apa itu warkah lama. Ku titipkan nanti dalam coretan seterusnya.

~~Aku Maafkan Kebuntuanmu~~

Pentas maya menjadi saksi
Dalam gelora dibalun sepi
Aku mual kelibatmu yang lama mati
Mencarik carik gumpalan sengit
Menghentam hentam tubuh yang gering

Di mana silapmu
Apa buntumu
Bisikkan pada alam kerna ia bisa mendengar
Bisikkan pada bayu agar hati tiada syahdu
Dedaun yang gugur bukan gering
Sebaliknya di usung sedih melilit

Bahagia itu bukan acuan kita
Jasadnya tiada zatnya tercipta
Agung buatmu agung buatku jua
Usah dikalutkan takdir dan cinta

Aku merenung sejarah lalu
Kugarap menjadi lukisan pilu
Dari alur mataku
Dari sengit ragaku
Kau bisa rasakan

Usah lagi kau mahu hampir
Hentikan semuanya
Hentikan cereka teatermu
Aku dipimpin ke gerbang ketulusan
Melafaz erti kebahagiaan berkekalan

Saturday, August 23, 2008

~~Aku Maafkan Kekejaman Kamu...~~

Bila lihat bunga berkembang, hati mula bicara indah. Teraba raba agar ada lagi akar akar yang subur untuk terus melihat keindahan dan kemekaran sekuntum bunga menguak kembang. Di kala kelam malam yang penuh dalam kegelapan, ia tak akan pernah berhenti dari disinari bintang timur dan seri bulan.

Aku mula menguak lembaran baru kehidupan, begitu cepat masa berlalu sehingga bisa mencoret warkah warkah indah di saluran cinta kalbu. Semalam yang menakutkan kini bawa bibit indah menyusuri landai kehidupan. Sebenarnya aku gentar, melihat kabus esok yang tak pasti apa lambang isi hati. Kekalutan sering menepis buntu nurani, hingga adakalanya aku membisik perit menanti esok yang tiada bayangan.

Akan aku kuburkan warna warna luka semalam seperti yang aku selitkan dalam mentera semangat hidup ini. Kebahagiaan yang kudampingi usahlah ditujah lagi dengan pekat gelita sepi. Aku bingung apa mungkin cerita semalam bisa membawa aku terbang mengikut corong corong kusut?

Usahlah terus menghantui, kapankan sahaja niat itu wahai kamu yang condong akal kehidupan. Berikanlah ruang pada dirimu yang naif itu, doakanlah kebahagiaan buat insan yang pernah kau aniayai ini.

Ku khabarkan pada cengkerik di hutan, aku ini sebenarnya masih takut dan kusut. Lantas kodok di bawah lindungan bulan menyidir akan kebahagiaan ini. Ku bisikkan pada rumpunan lalang erti gerutu jiwa sepi nan lalu, disindir pula kunang kunang berterbangan seolah aku tidak layak mencari sinar gembira itu.

Aku jerit pada alam, bebaskan jiwa kalut dalam sumpahan ngeri tiada berperi. Angin lantas membingkis dan membaluti susuk tubuh yang gering. Awan mengusung rindu terperam, di ajukan soalan dendamku lantas terus bangun membidas, tiada lagi kukumpul amarah malah sujud aku pada bumi memohon agar tuhan mengampuni insan insan yang bacul dan kandas dalam menzahirkan keegoan di hati.

Siapa bisa meramal esok untukku? Bukan bulan mahupun bintang, bukan mama mahupun papa, bukan jua bakal suamiku. Ku pandang dada langit, terlihat kekuasaanmu Illahi, tumpah airmata syukur sambil menadah memohon kasih agar tidak direntap esok hari yang kuharapkan sinar gemilang.

Wednesday, August 13, 2008

~~Kala Rindu Menyusur~~

Bila bunga mekar berkembang, kumbang datang menari riang, mentari redup menyinar, pastinya hari itu sangat tenang buat kita. Di buai deru deru angin, sejuknya mendamaikan hati, itu tandanya jiwa ini diselaputi cinta.

Maafkan aku andainya puisi kukarang alunnya sumbang, aku tak pandai lagi bermain kata. Lidah kelu bila menatap segala ceria, terutama bila kau merenung ke dasar mataku.

Ampuni aku andai ada kurangnya pada zahiriah ini, namun tak akan pernah aku berhenti dari menyelami kesuciaan kasihmu. Biarlah kasihmu tak sebesar kasihku, biarlah cinta itu tak sedalam cintaku, biarlah rindumu tak sekuat rinduku, aku tetap menagih hingga ketagih akan bibit belaimu.


Desir pasir di padang tandus
Segersang pemikiran hati
Terkisah ku di antara cinta yang rumit

Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekadar cinta
Pengorbanan cinta yang agung
Ku pertaruhkan

Maafkan bila ku tak sempurna
Cinta ini tak mungkin ku cegah
Ayat-ayat cinta bercerita

Cintaku padamu
Bila bahagia mulai menyentuh
Seakan ku bisa hidup lebih lama
Namun harus ku tinggalkan cinta
Ketika ku bersujud

Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekedar cinta
Pengorbanan cinta yang agung
Ku pertaruhkan


(Ayat ayat cinta by Rossa)

Saturday, August 09, 2008

~~Layang layang~~

Lebih tegar menjadi pungguk, tidak perlukan teman. Ada benarnya sendirian lebih banyak membawa diri mengenali erti kehidupan. Ada hadirnya jujur jika membawa hati keseorangan. Janji membelai hati bukan mudah, berarak awan adakalanya membawa pergi sebutir demi sebutir istilah janji.

Keroncong rindu jarang jarang didengar, bila hati meruntun kasih tika itulah gerutu sengketa berpaut melilit. Kebencian pada ketegangan menular, aku ini hanya tahu istilah lari dan lari dari segalanya.

Sebenarnya apa yang menampar mesra? Jawab padaku jika tiada kelu bicara, aku mula buntu dan terus mecari corong corong rindu jika kedengaran. Khabar padaku bulan, jika aku ini tidak layak sebenarnya menunggumu.

~~Bahasa Alam Jam 5 pagi Temani Kusut Jiwa~~

Berarak kudus kelabu membawa denyut nadi luka. Aku masih terus mengomel arca biru yang warnanya jingga. Kelabu mataku atau biru bertukar wajah, tidak ku kenali apa lagi adanya kusut tersimpul jaring duka.

Bawa pergi dalam alun sepoi bahasa, tinggalkan aku sendiri sesepi musim salji. Aku mahu pelangi merawat warna gelita tatkala musim bunga menerjah senja. Seperti gugurnya luruh kelibat dedaun mekar di taman larangan cinta.

Sedar atau mimpi, aku hanya mahu diselimuti dedak tenang.

Friday, August 08, 2008

~~Hiburkan hatiku~~

Tatap mataku merenung lembaran layar kehidupan memetik aku dari lena yang semakin panjang. Langkah mula tersangkut sangkut, menguak tirai realiti. Gugup melihat awan berarak terlalu pantas meninggalkan dengan ekor mata.

Di pentas tari ini, lentik jemari lenggok punggong semakin bertambah usia. Takut menoleh babak semalam, membuat bait petah gagap bicara. Tambah lagi hari ini bukan mainan mencorak esok yang penuh warna warni.

Teman, aku dikunjung persoalan buntu tika ini. Bersahajalah aku menganggap sebarang bait kata itu sekadar menujah telinga kanan dan terbang luncur alur telinga kiri. Aku kuncikan setiap ruang mendengar bicara sesiapa pun, aku hanya yakin pada aku dan cintaku.

Kalau Kiki bersama awannya, aku mahu terus ditemani bulan. Gelap malam tanpa sinar itu akan membiarkan unggas menganggu lena. Usah terjah dinihari dengan ruang salju membeku, tinggalkan sedikit kehangatan malam agar rasa suam suam kuku menyelinap ke setiap rongga kudus.

Ombak tak pernah lupa menghempas pantai, sekejap tinggi sekejap rendah. Deru bayu mendayu dayu, mengajar aku kenali gayat curam kehidupan. Dada ini penuh gelora, menarik baldu sayu dijadikan pengesat air mata. Ombak di laut bisa ku tentang, ombak di hati tak bisa melewati babak tenang.
Teman, mata ini lesu melihat sedang telinga tuli mendengar. Sejarah sudah kukuburkan, memori telah di nesankan, sumpahan lantas ditalkinkan tapi gugusan gemuruh masih ditemani kupu kupu di dasar perut.
Senyumkan untukku seandainya aku tak bisa tersenyum padamu, bicarakan sesuatu di telingaku seandainya lidah keras membeku.

Thursday, July 31, 2008

~~Sedikit coretan Melangkaui Minda Yang Kalut~~

Atas desakan tugas di pejabat sering membantutkan masa untuk Nini berkongsi drama kehidupan yang dilalui lewat waktu ini. Setiap kali pulang ke rumah, setelah membersihkan diri pastinya terlena terus dari merawat keletihan sepanjang hari. Lelah tak berganti reda disudahi pula dengan gugusan cungapan yang tak tenang tenang.

Banyak kisah yang ingin Nini landaikan di sini agar bisa bersama kalian mengharungi memori memori semalam dan harapan untuk esok bersama berakhir dengan penantian. Apakan terdaya kudrat pinjaman illahi ini, hanya mampu menganyam anganan seketika sementara dapat menarikan lagi jemari ini ke atas bonjol bonjol papan kekunci ini.

Beberapa minggu lagi, jemari yang girang menari di atas papan kekunci akan dihiasi sebentuk ikatan murni. Selama hampir dua puluh lima tahun jemari tidak tersarung ikatan padu kasih, kini ia bakal dipetik jejaka kudus hatinya. InsyaALLAH, jalan menghampiri gerbang bahagia tidak lama lagi bakal kami jejaki.

Bukan mudah mencari apa erti setulus kasih seikhlas cinta. Adakalanya kita mengejari terlalu pantas untuk mendakapinya namun kecundang di penghujung cerita, ada pula ketikanya perlahan dan teguh mengepunginya sedang dipertangahan itu yang dikurniakan adalah jalan buntu.

Maka dengan membuka seikhlas hati, menadah tangan ke junjungan Illahi, sudah benar si dia ditakdirkan untukku, maka mata bertaut sudah utuh menyimpul janji mengunci hati. Bukan ajaib atau kebetulan jika cinta menolak gigi gigi pantai hati, sebaliknya sudah benar kita diukir di langit ke tujuh sana tentang perjalanan singkat ini.

Jika wajah yang ayu, rupa yang tampan menjadi kayu mengukur segala kasih sayang itu, nescaya tidak sampai ke mana janji kekal abadi yang di akad ketika bertentang mata dengan tok kadi. Jika harta dan kebendaan membentengkan segala cinta rindu yang mekar, sebentar lagi jualah akan roboh istana bahagia itu. Tidak ada yang kekal di wajah ayu, harta menggunung tanpa kejujuran dan keikhlasan hati yang kental. Rupa yang tampan bisa dimakan kedut usia, kebendaan yang menggila bisa bersilih gantinya sejajar peredaran dunia. Apa ketulusan dan kejujuran bisa terhakis jika dibajai dalam perhubungan cinta ini?

Setiap kali mata ini berpaut pada wajahnya yang lahir sejuta keikhlasan, membuatkan aku terus kuat menanam rasa cinta yang tak pernah kurasakan.

Sambil kesentuh lembut pipinya, bibir terus mengungkap kata, "Akan sering aku mencintaimu seperti esok tiada bagiku".

Kerut keningnya buat kali pertama mendengar bingkisan ini membuatkan aku tersenyum sinis. "Usah ditujah kebimbangan di dadamu kasih, aku sekadar ingin menikmati cintamu seperti tiada esok bagiku".

Di dalam mata itu, aku lihat ribuan cahaya kasih yang sering menambat jiwaku. Aku buta pada kelibat yang mundar mandir kerna mata ini di pahat sedalamnya tatkala pancaindera bersatu.

"Matamu memberikan aku semangat untuk terus kuat dan hidup", aku mengerling merenung jauh. Mahu sahaja aku lontarkan sekali gusar yang selama ini menghambat nurani.

"Matamu juga sayang, seperti ada satu daya magnetik yang menarik aku melihat dan terus melihat", diusai lembut rambutku.

Hanya mengambil beberapa bulan yang singkat, si jejaka rupawan itu bakal menghantar serombongan keluarganya menambatku dengan sebentuk cincin agar tidak ada lagi mana mana teruna bisa memboloskan dirinya memilikiku. Saat itu semakin hampir, aku hanya mampu memohon padamu illahi agar segala perjalanan yang kau ciptakan buat kami ini mendapat keredhaanMU.

Di sini aku mengakhiri warkah kasih ini, moga adanya ruang untukku berbicara terus dengan kalian tanpa ada batas waktunya. Doa kalian teman teman ibarat bunga bunga bertaburan di sepanjang perjalanan kasih ini.

Kepadamu yang membuatkan aku sering tertambat, kesudianmu menerima sekerdil jiwa ini amat aku sykuri. InsyaALLAH, ruang bahagia buat kita ada lorong dan corongnya. Terima kasih sayang.

Thursday, July 24, 2008

~~Monolog Bidadari Sepi~~

Jemari semakin pantas menari, mengucup segala derai air mengganas di pipi. Hati terus ditambat gelisah, mencari pengertian setiap bicara lantang yang kulafazkan. Benar ia sukar, aku mengerti! Tidak semudah itu menggapai bintang di langit. Jika mudah dicapai tangan, pasti tidak bermakna erti sinarannya si bintang pujangga.

Lembaran semalamku bukan untuk mendabik dada, malah bukan warkah cerita gembira. Sedang semalam yang kalian lalui adanya lahir putik bahagia. Sudah sudah menggarap landai kecewa, ia tiada penyudahnya. Ramai pula teman yang mampir mengetuk kotak pesanan bertanyakan apa cerita di sempadan bahagia?

Aku kuburkan sejarah lalu, wajahnya penuh tompok ngeri dan nyeri. Usah bimbang, tidak lagi akan ku calitkan warnanya pada bait bicara denganmu. Bila ku renung sedalam makrifat, persoalan merogol minda. Apa benarkah aku bisa memimpin bahagia? Atau dikejar lamunan semata?

Jengah semalam yang baru, kebahagiaan itu benar hadir selimuti segala pilu. Kehadiran jejaka berhati mulia satu harapan baru sekuat harapan Anwar pada Malaysia Baru. Mahu di akadkan sahaja agar bisa menguntai pasir pantai yang jernih dan bersih, itulah gelora hati yang menggigit bibir bibir jiwa. Walau senyummu gambaran indah, aku lebih suka menjenguk dasar ikhlasmu untuk memacu anganan dunia.

Tapi...gusar menyelit di kala segala warna indah mencorak lukisannya. Segumpal ketakutan menyesakkan dada, sebeban kesedihan meledakkan auranya. Perlukah bicara soal kejujuran? Kelak mencari bibit ketegangan. Perlukah bicara tentang keikhlasan? Kelak tersadung keterkilanan. Sudah sudahlah menghentam hati, takut tersungkur dari bahagia.

Sesepi ini aku rasakan, aku hanya mahu sendiri. Melihat esok dengan haluan nurani, tak mahu bersama angan yang gering. Aku lihat dipantulan cermin, layakkah aku membancuh bahagia dalam kesempurnaannya?

Tatkala ini, di kala hujan bisa temani gerutu sepi, apa lagi langit menebar pelangi, aku mahu sendiri dan mencari diri yang mati. Apa layakkah menghampiri jiwa merdeka sedang aku masih ditawan luka pilu?

Bahagia itu teman...apa adakah jaminan setia kekal abadi?

~~Buku Lama Lembaran 365~~

Setahun berlalu, aku melangkah ke alam baru. Pada yang mengerti, kamu mungkin bisa tersenyum dan buat yang kabur, usah kau sesakkan benak mencari apa kata ku.

Aku mahu ucapkan SALAM HARI LAHIR KEMBALI!

Harapan masih terus menjadi harapan, impian tetap mendaki tinggi walau kaki berpijak di bumi.

Pada yang menerima, ketabahanmu mercu segala semangat.
Pada yang tidak mahu mencari erti bahagia dan menantikan dia, patutnya kamiu lebih mencari ruang redha.

Aku mahu ucap SALAM BUAT AKU YANG TERUS BISA BERNAFAS

Alhamdulillah

~~Aku Kalut~~

Kalau bicara bisa tumpul
Aku kini hilang ketajamannya
Di mana ia lumpuh
Aku mencari saraf yang terhenti

Buntu bukan milik cendiakawan
Berlari dan sembunyi sifat kurang pintar
Sedang ku tahu siapa aku
Tak gentar di tuju
Tak gugup di acu

Hati mula berkabus
Warnanya malap semurung senja
Aku benci warna itu
Tatkala mentari melabuh
Jiwa turut kabur

Meraba tatkala mencari bintang
Tingginya melangit cahayanya melata
Menyepi menanti desir ombak
Yang menghempas ke pantai
Alunan berdesing sumbang

Wednesday, July 23, 2008

~~AkU TaK mInTa SiApA PuN TaHu~~

Aku tak minta siapapun tahu
Tingginya langit itu
Rendahnya tapak ini
Bukan beban yang harus kau pikul

Aku tak minta siapapun tahu
Gelora bukan untuk kamu
Pilu itu bantal busukku
Sepi kelongsong lagu girangku
Gelisah temani mimpiku

Aku tak minta siapapun tahu
Gobok menyimpan kepahitan luka lalu
Kuncinya sudah ku benamkan
Entah di mana terlupa ingatan

Aku tak minta siapa pun tahu
Luka itu bisa sembuh
Dalam kudus doaku
Biar berlalu sendiri
Biar dihimpit gering

Usah di intai lagi
Kau pasti ngeri

~~Kalau Bulan Bisa Bicara? Kau Juga Mahu Menutur Kata?~~

Bulan...
Malam ini gelora hadir kembali
Sejuk dingin dalam sepi
Mencari khilaf yang tercicir

Kurenung dada langitmu
Kau murung disambar salju
Dibalik awan hitam kelabu
Wajahmu seiring gerutu hatiku

Bulan...
Malam ini kuratap lagi kisah itu
Bencinya menjadi aku datang lagi
Menguris dada langitmu
Menjerit pecah maya
Aku kegugupan

Bulan...
Dakap aku yang dalam kedinginan
Cerita malam menjeling tajam
Membawa sangkutan esak gelora

Bulan...
Peluk tubuhku yang keresahan
Ingin berlari padamu
Ingin di dodoi dalam bayumu
Aku resah aku gelisah

Bulan...
Aku mahu kunci bahagia
Berikan padaku jika kau ada
Keletihan meratap kisah lalu
Kini menjadi hantu hantu di gerobok jiwaku

Owh bulan kekasihnya pungguk...
Selimutkan aku yang menggigil
Ketakutan mula memuncak tinggi
Merenung langit yang bisa rebah ke bumi

Jika aku bisa terbang
Sudah ku lari jauh dari maya
Jika aku bisa menghilang
Sudah ku lesap di penjuru malam
Jika bisa ku putar semesta
Sudah ku putar sejarah silam
Agar makhluk tak perlu mengenali
Siapa aku dan siksanya batinku

Apa mahu berlari?
Kaki sudah kudung
Apa mahu berpencak di gelanggang?
Senjata kontot sudahpun tumpul
Apa mahu bertikam lidah?
Tikaman sudah hilang bisanya
Apa lagi yang mereka mahu?

Bulan...
Kau tetap di sisiku biar aku terkujur mati?
Kau tetap merenungku bak lenggok sang puteri?
Kau tetap setia padaku biar tiada sang mentari?
Terima kasih bulan
Kau tegar dalam cintamu bersamaku...

Monday, July 21, 2008

~~Jangan Lafaskan Kata Itu, AKU DI KEPONG RASA BAHAGIA~~

"Apa kau sudah bersedia?", lamunan panjang dalam hidup mula disambar halilintar oleh pertanyaan itu.

"Sudah", ah ringkas benar jawapanku seolah tidak dapat meyakinkan sesiapa.

"Benar kau dah sanggup memikul beban itu, menjadi teman hidupnya?"

"Apa wajahku menggambarkan aku hanya mahu keseronokkan? Di wajah ini riakknya nampak main main sahaja ke?", itu jawapan panjang lebar yang aku ajukan kembali.

Papa riakkan wajah gusar, di hatinya tersarang rasa gundah. Benarkah si Mr Hunny dapat mencurahkan kasihnya seperti mana papa membelai manjaku sepanjang 25 tahun? Dari air muka yang tenang itu dapat ku baca segala resah papa, namun itu tidak bermakna ada bantahan keras dari nuraninya.

"Kalau macam tu, papa iringi dengan restu dan doa buat kalian"

"Cinta dan kasihmu papa, tak dapat ditandingi oleh mana mana insan bergelar manusia. Kamu papa terbaik dan aku mahu terus menjadi anak tercinta buatmu", aku menelan gusar papa dengan janji manis yang kusuburi sepanjang hayat denganmu papa.

.........................................................................................................................................................................

"Berapa lama kau kenal?", berbumbungkan langit pekat malam, teman mula berbicara.

"Semua pasti tak percaya, paling tidak ada yang akan katakan aku gila", aku hanya mampu menjawab dengan setenangnya

"Tak lah begitu, cuma ceritakanlah kisahnya agar kami tahu bagaimana bibit itu bermula", teman itu terus mendesak.

Nah, aku mahu muntahkan di sini segalanya. Kata orang, perkenalan itu harus memakan masa agak lama untuk lahirkan rasa cinta. Ada yang mengambil masa tiga bulan, ada pula enam bulan dan ada yang mencecah angka tahunan. Padaku, cinta itu tak perlu berbunga terlalu lama jika hati sudah terpaut, mata bertentang jiwa tenang, senyum berbalas penuh ikhlas.

Akhir May lalu, aku mengenali Mr Hunny dalam jarak sangat hampir. Walau saban hari kamu bertemu, tidak sekalipun aku endahkan teguran itu. Aku sudah lama matikan segala rasa ingin disayangi. Aku mahu terus sendiri agar tidak di tikam perasaan pedih. Aku takut bermain api, kelak esok memakan segala sisa sisa diri.

Akhir May lalu, aku berjabat salam dengannya dan segala sendi mula bergetar. Itu hanya kali pertama, sudah segala getaran cinta menular dalam nadi. Ah, siapa kamu ini, itulah bisik hati kecilku. Aku tegas membingkis agar tidak hiraukan senyuman manis yang di ukir jam 3 pagi lewat May itu.

Hanya berlandas senyuman, aku lihat bentuk cinta hadir dalam bayu yang halus. Terbang dan bersandar di bahuku. Dari tidak mengenali, aku mula mendekati. Mahu ku lari jauh agar tidak tersiksa lagi, makin dekat debunga rindu melilit. Ketakutan musim luruh lalu buatkan aku buntu untuk mendakap selembar kasih itu, tapi apa benarkah lain padang lain lalang? Kejam jika aku harus menghukum semuanya sama.

Hari bersilih waktu berganti, aku makin resah dalam lirikkan senyumannya. Malam tidak lagi tenang, yang ku mahu adalah miliki sepenuhnya senyuman itu. Bisakah aku? Apa dia juga begitu? Atau aku sahaja yang kepingin merasainya.

Kini, biar bulan itu hanya berlalu kurang dari 100 hari, Mr Hunny dan aku bakal mengkahiri babak pertama fasa kehidupan abadi.

"Sudikah kamu menjadi isteri dan ibu pada anak anakku?", walau biru wajahku menahan malu namun aku hanya mampu menggengam jemarinya tanda setuju.

"Apa sudikah kamu untuk menerima insan sedaif aku ini?", tuturku tersangkut sangkut.

"InsyaALLAH, aku yakin kita telah ditemukan untuk mencari kebahagiaan bersama", jemarinya menyapa lembut pipiku. Ahhhh, segala rasa pedih dalam kelopak hidup ini seolah berlalu pergi ketika jemari itu menyentuh rongga rongga kulit.

"Aku tak mahu berjanji..."

"Jangan...jangan kita berjanji, kelak takut tak terpatri", kataku separuh jalan dipintasnya laju seolah menahan trauma yang menghantui diri.

"Kasih, tuturku usah kau ragui", mataku sudah kutambat dalam dalam terus ke dasar hatinya.

Benar, beberapa minggu dan bulan lagi, aku melangkah ke babak baru. Kadangkala, hati kecil berbisik bimbang, tertanya tanya tentang keikhlasan namun apakah harus ku bawa segala ini sepanjang menjalani kehidupan dengannya?

Cinta ini, tiada siapa memaksa tiada siapa menduga. Cinta ini kalau bisa di tanyakan tentang kejujuran, pasti tiada jawapan yang hadir namun cinta ini dilahirkan tatkala Mr Hunny dan aku bukan dalam alam misteri. Mana mungkin cinta terjalin beberapa waktu bertentang mata, mana mungkin keputusan mengkahiri alam remaja bisa diputuskan kurang dari tempoh mengenali diri masing masing.

Apa pun warna cinta itu, aku dan Mr Hunny sudah benar benar sedia. Hapuskan segala keperitan dan campakkan belai cinta dalam hatiku, maka akan aku tanamkan benih kasih sesuci Zulaikha yang tak bisa kau berpaling.

Jika kau takut pada janji, aku tak mahu ada janji dalam cinta. Sebaliknya akanku jahitkan lembaran kata kataku dan kusarungkan pada dingin kasihmu yang lalu, moga moga ia tidak lagi menggigil mencari belaian insan yang bergelar isteri dan ibu pada anakmu. InsyaALLAH.


Wednesday, July 16, 2008

~~Entri Ini Untuk Kamu Yang Amat Mengerti Siapa Aku~~

Dulu...

"Kalau kerja sampai bila pun tak habis"

Aku menjeling tajam walau bibir menguntum senyum paksa. Beberapa bulan lalu, aku pernah dihambat bait kata itu dari jejaka yang sering membuatkan muncung memacu tajam.

Ketika itu, dia sering mengajukan pernyataan pernyataan sinis padaku. Aku mula kurang senang bila bertentangan dengannya.

Kini....

"Sayang, kalau u nak pulangkan balik kata kata itu, I terima"

Hari ini aku mendengar jejaka itu meminta aku memulangkan kembali kata kata itu padanya.

Terimbau 'moment' itu, sedang dia menghirup teh petang hari di kedai mamak berhampiran tempat kerja, aku pula berjalan menuju ke tempat 'parking' kereta, pertengahan halaku lantas sapaan itu terpacul dari bibirnya menusuk alur telingaku. TEKANAN!!!

Sebentar tadi...

"Sesibuk mana pun i, pasti ada waktu untuk kita bersama. Takkanlah nak luang sedikit masa tak boleh"

Hurmmmm, selama ini aku sering menelan butir kata "Sorrylah, i busy. Nanti tak bz kita keluar ye", tak pun ayat yang hampir sama seperti ini "I busy lah, bukan i pergi mana. Kerja i memang banyak. U cubalah faham sikit. Kalau u busy, I tak pula paksa paksa u".

Itulah yang aku telan selama ini! Setiap janji sukar nak dikota, hinggakan akhirnya aku menelan rasa pedih dan buntu.

..............................................**************............................................

Buat kamu yang kini menjadi kekasih, buat kamu yang tatkala ini kita menyulam benang cinta menuju hari bahagia, buat kamu yang sering memberikan senyuman yang sudah lama mati....

Kalau bisa aku pahatkan kata kataku, ambil ini sebagai azimat. Belum pernah aku temui insan selembut kamu menyemai kasih dalam hati, tak terlihat lagi dari mata bundarku tentang kelibat lelaki yang ayu meyentuh bait bait rindu. Kau bukan istimewa lagi buatku, hadirnya kamu umpama penawar yang menyembuh luka luka pedih jalanan ini.

Sayang, bersamamu aku tak mahu pohon doa menggunung. Cukuplah sekadar Yang Esa merestui kasih ini dan antara kau dan aku bisa menempuh ranjau yang berliku dengan angin ketenangan.

Aku tak punya kata kata lagi, hanya satu yang berpaksi di dada...AKU MAHU KETULUSAN KASIH INI KEKAL BAHAGIA SELAMANYA.


Friday, July 11, 2008

~~Serabut~~

Semakin dekat, aku semakin takut.
Hati berkata kata, kelu bersuara.
Cerita lepas ah! biar dinesankan.
Kusam jiwa sering bicara kalut.

Wednesday, July 09, 2008

~~Seterusnya Kau Harus Tahu~~

Berlalu musim tengkujuh itu menutup debu debu silam, apa aku harus berhenti dari impian walau jelas segala keindahan tersergam di hadapan mata? Aku tidak lagi bangun dari tidur yang penuh warna warna kusam, kicau burung kelicap dalam dingin pagi memberikan sinar gemilang buat harianku. Apa aku sudah asyik benar dalam ruang selesa?

Benar, sudah kupadamkan dan matikan segala kegersangan rasa yang menghimpit lombong hati. Tiada lagi intaian gambar gambar luka di balik jendela buruk itu. Sudah kukepamkan dan campak jauh benar dari galaksi ini. Aku sedang gian dan ketagih dalam candu bahagia yang dipersembahkan oleh si jejaka yang menambat hati ini dengan semboyan alunan gemersik untaian kasih.

Siulan ghairah bibirmu sering melenakan malam hari dan terbawa dalam mimpi gering saban waktu dulu. Dengan mu, tanpa semangat, tanpa kekuatan, tanpa harapan, ia tidak menjadi sebaik dan sepantas ini. Perlukah aku kupas luar dan dalammu untuk kau bisa tahu apa yang aku rasai?

Aku lebih ghairah menyimpanmu dari memaparkan keperibadianmu pada umum, gusar mereka bisa terlihat keindahan hatimu dan aku berperang dengan kecemburuaanku. Maaf kerana aku begitu tamak dan tidak mengizinkan siapapun berkongsi denganku. Berlalu mendung itulah yang membuatkan aku menjadi seorang yang sangat penyayang dan tidak sanggup berkongsi senyuman.

Bila bulan tak timbul, aku mencari penuh asyik. Tertanya kenapa kau sembunyi malam ini? Adakah awan gelap menyelindungkan kamu dari bercumbuan denganku? Apakah kamu sedang memadu asmara bersama pungguk di balik pekat malam sana? Aku di sini biarpun bertemankan kekasih hati namun tetap tidak mahu lepas dari mencintaimu bulan. Kau penyeri ketika aku di himpit luka, kau penyembuh gering nazakku. Tanpamu bulan, di mana dan ke mana sebenarnya langkahku?

Biarkan aku menganyam impian, dengan si jejaka seindah putera kayangan. Usah kejutkan aku dari mimpi jika lenaku dalam pelukannya. Usah paksa aku lelapkan mata jika di hadapanku sesusuk tubuh perwira. Usah hentikan denyut nadiku sedang dia sedang melayari bahtera kasih denganku. Aku mahu dia gembira, tersenyum manja, membelai mesra dan memimpin ke arah cinta dunia akhirat. Bersamamu, aku tak akan berhenti menjadi nafas nafas dalam perjalanan hidupmu. Andai terpisah jasad dan roh ini, aku tetap meniup seruling rindu agar bertemu di alam abadi.

Saturday, July 05, 2008

~~Lagi Cerita Tentang NOVEL??~~

Semalam terus berlalu dengan nada sayu, mencari sesuatu yang tak pernah aku impi dan bayangkan. Sudah - sudahlah mengait bintang di langit, merindu bulan gemilang, merenung pungguk di awan dan akhirnya aku terus di sini bersama harapan demi pengharapan.

Aku bangun dan terus terjah ombak ganas, aku tak peduli lagi tentang impian dan angan angan. Terus mahu terjah ke syurga yang janjikan babak babak indah dalam klimaks kehidupan. Pedulikan segala apa yang aku terjah, kalau luka ia bisa sembuh, kalau tertusuk duri ia bisa di cabut, kalau diracun ada penawarnya, nah! Apa lagi yang menghentikan dari terus menerjah ke lembah nikmat kehidupan?

Dalam perjalanan penuh dendam dan semangat menggila, aku terpaku melihat sesuatu sinaran Tuhan yang memanah indah. Tuju tuju sinar itu merembat titik luka jiwaku. Aku tak mahu hampir, aku takut latans naluri menjadi anak kecil. Merengek ketakutan, mencebik layu, namun mampir jua perkuatkan hati menuju laju, sangat laju. Segalanya berbolak balik, sekawan burung terbang berselerak, memacu pecut ingin jua hampir ke arah cahaya itu.

Aku lihat dengan jelas, aku hampir dengan ikhlas, aku tuju dengan deras, aku dakap penuh tegas. Sinar itu rupanya sang jejaka bertubuh kental, tidak ada cacat celanya untuk aku mengomel sinis. Sinar kuat itu hakikatnya insan biasa sepertiku, punya jasad dan rohani, punya iman dan semangat, punya kudrat dan tekad. Kenapa alam tunduk hampir padanya? Aku tak gemar, aku tak endah, aku mahu alam jua tunduk padaku. Bolehkah begitu pintaku? Kau bukan siapa siapa, tapi mengapa sekawan burung senyum padamu? Kau bukan istimewa, tapi mengapa deru bayu menyeru rohanimu? Kau buat aku tak keruan, gelisah dalam terik sinaranmu.

Salam kubicarakan lembut sambil menyambut kudus jabatnya. Tiba – tiba aku rebah. Aku rebah? Ya benar aku rebah menggengam jemari itu. Yang rebah itu bukan jasad, sebaliknya jiwa yang lama mati mencari tanah untuk dikuburkan. Yang rebah itu juga bukan susuk tubuh sebaliknya kekuatan rohani yang terbang bersama luka luka masa lampau.

Mata dua rohani bertembung, jiwa anak adam dan hawa ini diselubungi kabus. Berbisik hati kecil hanyalah suara suara gembira yang menjalar hidup kembali. Bunga yang layu kini menyerap cahaya itu dan mengopak kuntumnya. Gagap bicara lidah kelu. Aku dihambat rona bingung, lantas bicara hati bertanya lagi, terus dihantui bingung? Alam seperti biasa, tertawakan gejolak hatiku yang pantasnya seperti serba tak keruan, kayaknya seperti anak - anak kecil, lucu benar. Dendam hati kecil ini terus menjeling pada bisikan alam itu lantas kubicarakan, “bila aku bahagia, aku tak mahu kongsi denganmu”, getus hati kecil yang kelibut pada alam yang cemburu.

Bicara mula kalut, lentuk gemuruh terus gerutu dan sebenarnya yang bermain di benak ialah apa? Aku ingin tanya siapa kamu, mengapa kamu hadir memahat semesta maya? Gayanya seperti putera kayangan langit ke tujuh, tuturnya menempel sebaldu kabus. Kalut aku ini, semakin terus dihumban kalut.

“Jangan tenung aku begitu, aku lemah dengan lirikan matamu”, dia memecah buntuku dengan bicaranya dan aku rebah kali kedua. Gelakkan aku jika kamu mahu terus mengecapi bahagia wahai semesta maya. Aku tak endah akan hilai bahakmu. Bisikku dalam jiwa, “kau rebah dengan lirikanku sedang aku rebah dalam senyumanmu. Kau yang gila atau aku tergila gilakan senyuman itu?”

“Bibirmu indah, alis mata mempersona, izinku memahat namamu dalam jiwaku”, di genggam jemariku sambil bait kata itu lantas memacul. Aku sesak jiwa raga, pernafasan terus terusan tak keruan seperti tersadung urat nyawa. Jangan khabarkan bahawa aku dipacu cinta, jangan lafazkan bahawa aku dihambat asmara. Ingin ku tanya sejuta tanda tanya tapi tak terluah, terkunci segala pintu pintu bibirkubila bicara menujah minda.

Pungguk yang bersangkut di balik pohon rendang terbahak bahak gelakkan kelakuan sumbingku. Cacat bila bicara dengan jejaka ini, tumpul segala amarah, gugur segala dendam. Bersarang di hati hanyalah persoalan demi persoalan. Kau siapa wahai jejaka? Dari mana hadirmu? Apa mahumu? Jangan hadirkan buntu itu lagi, aku sudah berjanji untuk dikuburkan tanpa kasih seorang lelaki.

……………………………………………………………………………………

Babak baru lagi dalam novel yang tak pernah ketemu jalan penyudah. Aku mahu kongsi sedikit warna cerita dan kalian nantikan sambungannya ya!

~~Usai Segala Derita~~

Padamu kasih kuhimpitkan segala rindu
Biar sesak nafas kencang aku terus terbang
Burung berkicau nyanyi bersama
Layangkan semua kusut derita

Kukutip picisan rindu yang gugur
Terhanyut di alam gelita
Tiada sinar petunjuk haluan
Kini hadir kilauan mutiara

Kekasihku Sayangku
Mereka biar terus buntu
Dari mana hadir rindu
Menghimpun kuntuman salju

Kekasihku Kekandaku
Biar tersergam tanda tanya
Di kusut benak mereka
Tentang cinta ini yang penuh misteri

Aku cari bahagia bukan dirimu
Aku cari belai mesra bukan jasadmu
Aku cari tulusnya cinta bukan kebendaanmu
Dan ajaibnya ikhlasmu melantunkan doa kudusku

Memanah mata bundar
Menambat senyuman penawar
Mematri kelembutan gelora
Kaulah bahagia yang ku impikan

Selangkah tak pasti berundur
Aku mahu terus mencari sinarmu
Berikan segalanya padaku
Biar kuusai kekusatan itu

Friday, June 27, 2008

~~Ini Akhrinya Segala Gundah Itu~~

Matahari mula memancarkan sinarnya buat insan kerdil sepertiku. Asyik dalam sinaran itu membuatkan aku sering gugup menghadapi sinar lebih terik di hari depan. Kali ini, warkah ini aku tujukan khas buat kamu kekasih! Ya kamu, bukan siapa siapa tapi kamu yang banyak membawa erti kesyukuran dan keredhaan dalam hati ini. Kamu yang sentiasa berikan sebutir sinar setiap hari, kamu yang sentiasa menjadi benteng tatkala ingin rebah dan kamulah yang seringnya mencampakkan rasa kasih selain dari keluargaku.

Aku tewas kali ini, dengan panahan cinta yang kau suntikkan ke dalam tubuh. Kau harus tahu betapa besarnya hatiku ini menerima segala kehadiran baru dalam kelopak jiwaku. Haruskah aku titipkan namamu di sini? Usahlah, biar ia menjadi pertanyaan buat mereka tentang siapa kamu dan mengapa kamu menjadi pengakhir pencarian cinta abadiku.

Bangkitnya aku hari ini lebih kuat dari kejutan cas elektrik yang bisa membunuh sel darah merah. Setiap kali memandang seri wajahmu, aku pastinya rebah dalam tenungan itu. Kau kata mataku lebih tajam menusuk kalbu mu walhal hakikinya aku yang gelana setiap kali mata itu merenung susuk tubuhku. Kau ikhlas dalam lenggok bicara lirikkanmu, kau jujur dalam menyemai benih cinta ke dalam jiwaku dan kau teguh membina benteng kebahagiaan bersamaku.

Dalam derusan angin pantai mengembus rakus, aku benar benar lemas kini di setiap bait bait bicaramu yang menenangkanku. Aku mahu seisi alam bangun dan sedar bahawa aku tidak mati lagi. Kalau dulu, menghitung bintang di langir buat ku lelah, kini usah kata merenung bintang malah aku lebih setia menanti bintang malu hadir menemaniku.

Kugubal warkah ini buatmu, kerna dari kata kata, aku hanya bisa mencambah benih cinta padamu. Marilah kasih, bersama meredah dan berdoa pada DIA agar impianmu menyunting kegadisanku mendapat restu Izin DariNYA. Kau usah gentar dengan kata kata mereka, rusuhan hati mereka bukan untuk menyulitkan antara kamu dan aku. Tangisan piluku sering kau sapu dengan salju jemarimu.

Sayang, bicara ini mungkin kosong bagimu tapi impian itu besar padaku. Terima kasih kerana membasuh segala noda hitam dalam gering tubuh ini. Kita bakal melangkah ke alam baru tidak lama lagi dan kau akan menjadi pembimbing sejati. Aku pula akan sentiasa menjadi Isteri yang Solehah buatmu. InsyaALLAH...

Sebentar lagi akan kau miliki seluruh jiwaku, tidak lama lagi kau akan menatap wajahku siang dan malam. Bimbang juga hati ini kerna bulan pasti merajuk dan tersembunyi di balik pekat awan malam. Aku tahu bulan tak rela melepaskan kekasih hatinya disunting tapi BULAN, kau tetap dalam bunga bunga cinta yang ku ada.

Di sini aku berhenti, ingin kukhabarkan segalanya bahawa aku tak sabar menanti kehadiranmu dalam hidupkan atas tiket perkahwinan. Kita sama berdoa dan selebihnya pulangkan pada yang ESA untuk menentukan perjalanan ini.

Terima kasih sayang, terima kasih kerana sudi menerima insan naif sepertiku.


Sunday, June 15, 2008

~~Mari Kita Renung Sekejap~~

Pulanglah pada Tuhan cahaya kehidupan
Syarat bahagia di dunia
Akhirat kekal selamanya pada Allah

Sudah menjadi lumrah kehidupan di dunia
Cabaran dan dugaan mendewasakan usia
Rintangan dilalui tambah pengalaman diri
Sudah sunnah ketetapan Ilahi

Deras arus dunia menghanyutkan yang terleka
Indah fatamorgana melalaikan menipu daya
Dikejar dicintai bak bayangan tak bertepi
Tiada sudahnya dunia yang dicari

Begitu indah dunia siapa pun kan tergoda
Harta, pangkat dan wanita melemahkan jiwa
Tanpa iman dalam hati kita kan dikuasai
Syaitan nafsu dalam diri musuh yang tersembunyi
Pulanglah kepada Tuhan cahaya kehidupan
Keimanan ketakwaan kepadanya senjata utama

Sabar menempuh jalan tetapkan iman di hati
Yakinkan janji Tuhan syurga yang sedia menanti
Imanlah penyelamat dunia penuh pancaroba
Hidup akhirat kita kekal bahagia
Imanlah penyelamat dunia penuh pancaroba
Hidup akhirat kita kekal bahagia

Pulanglah pada Tuhan cahaya kehidupan
Syarat bahagia di dunia
Akhirat kekal selamanya pada Allah
Allah


~~Renung mataku, simpan kataku, bingkai senyumanku~~

Jam berdetik tak pernah henti, lewat malam ini aku lihat seluruh penghuni alam asyik dilamun pari pari, menganyam mimpi mimpi yang sungguh indah. Aku masih buntu dan tak mampu lelapkan mata degil. Bertubi tubi pertanyaan itu menghambat waktu yang ku lalui beberapa waktu ini.

Untuk siapa sebenarnya warkah ini? Aku masih cuba menari di pentas maya, mencari lagu gembira yang bakal didendangkan oleh seluruh tetamu laman. Berat mengatur langkah, aku masih terus menggelek manja mengharap mereka tersenyum gembira.

Teman, kau harus tahu bahawa senyuman ini adalah untuk kalian. Simpan setiap manis kuntumnya, seandai terluka ambil satu dibuat penawar. Aku tahu kalian di luar sana tak bisa menepis rona duka, dikecam dugaan melanda sedangkan aku hanya mahu memberikan sebutir sinar ceria di sebalik kekalutan jiwa.

Mari aku kongsi sedikit watak jiwa yang bisa kau ambil jika kau mahu menerima. Bukan untuk menjadi bidadari, bukan bererti menjadi pari pari cuma aku mahu menjadi teman sejati yang bisa membawa bunga mawar segar di hati kalian.

Jika kau tanya apa kekuatanku, lantas ku lafaskan kekuatanku kalimah syahadat yang menjadi benteng teguh buat kita. Jika kau tanya apa kecekalanku, pastinya keredhaan dan doa yang tak putus menganjakku dari lubuk derita. Jika kau tegar bertanya apa rahsia semangatku, dengan tenang aku hanya bisa meminta dan terus meminta pada yang Esa agar diselaputi keimananku dengan cahaya.

Kehidupan ini sangat berharga, sesaat yang dilalui pasti tidak lepas dengan tujahan emosi yang berbuah dalam diri. Aku di sini berdiri dan jatuh, lantas bangun dan jatuh lagi dan terus tersungkur pada setiap detik yang disuratkan namun tidak lagi amarah putus harapan menghantui diriku. Kita harus jernihkan lubuk jiwa, membuka ruang bahagia untuk merasa setiap kenikmatan yang Allah swt campakkan setitis demi setitis di dalam hati ini.

Sahabat perjuangan duniawi, kita sering terlupa bahawa kekecewaan itu sebenarnya mengajar kita menjadi lebih kuat dari hari semalam. Kita teralpa bahawa doa yang kita pohon itu sering dimakbulkan yang Esa, namun langkah apa yang harus kita susuri mengangkat tangan pada Illahi?

Seringnya sahabat, kita ini mencari kelemahan diri dan tunduk, lari dari berselingkuh dalam gusar yang dihantar untuk babak dugaan dalam perjalanan ini. Mengapa itu yang sering kita tempuhi? Jatuh dan jatuh dan terus jatuh hingga patah kaki untuk berlari? Kata kata bukan lagi membakar obor semangat sebaliknya menjadi benteng untuk kita takut meredah lopak kecewa.

Aku menulis bukan untuk sesiapa, aku memberikan sedikit waktu buat kalian kongsi denganku. Mengapa harus dilumpuri nikmat menjadi insani dengan ketandusan semangat yang pudar? Di mana hilangnya angan angan yang membawa kamu terbang? Di mana segalanya?

Sahabat, sambutlah gusar jemariku untuk kita bina harapan baru. Jangan lagi melihat diri kamu dalam diriku dan diriku dalam diri kamu. Semakin hampir kita mendekati Illahi, seharusnya semakin kuat kekuatan diri yang harus kita tanamkan dalam jiwa kecil.

Mari dekati dan renung ke dalam mataku, kau pasti tembus lorong lorong liku. Sedarkah bahawa lorong itu bisa membawa kita mengenali siapa kita di bumi ini?

~~Bila hati Memberontak...apa hadir tamu?~~

Semalam aku lihat ia hadir
Dalam gusar hati ia lahir
Penuh rasa yang menggigit
Menjadi tompokan ngeri

Sudah lama aku biarkan tangis
Membawa lara bingkisan pedih
Melihat dalam mata hati
Melihat duri tertusuk gering

Sampai kapan ia harus nyeri
Di kecam kemelut nyaring
Membingit dalam terik
Menghambat berbalam genting

Aku mahu lari
Ke mana harus ku pergi
Arah tiada membenteng
Terus dan terus berjeriji

Aku mahu menjerit
Dalam koma lemah membisu
Melepas amukan hati
Meriuh dikesempitan buntu

Pena terus menari
Mencoret gurisan hati
Membongkah runtuhan sepi
Hadir hanya mimpi

Aku bicara pada aku
Aku tak mahu menggarap angan itu
Biarkan membuah rasa cemburu
Melihat mereka terduduk kelu


Thursday, June 05, 2008

~~Aku tak mahu BERHENTI mengasihimu~~

Kalau bisa ku pecahkan kepompong ketakutan itu, lama sudah aku hempaskannya. Aku tak ingin lagi dalam segala kebimbangan yang melampaui batas fikiran waras. Ingin kuberlari ke lautan luas dan menikmati ketenangan pantai yang setia menghempas sisirannya. Aku mahu bebas dan tidak diselimuti kegersangan murung itu.

Walau semalam berlumpur wajah gelap, ditiup angin harapan, dibelai keraguan, hari ini aku mahu bangkit dan terus menentang rasa terkilan. Apa aku tak bisa mengecapi ruang bahagia? Aku mahu dan teringin benar mahu menyelinap ke rona kecil kegembiraan itu.

Malam sering bawa aku terbang, melihat pancaindera luar biasa dan menarilah bidadari menghiburkan. Aku asyik dan terus dibuai girang sedang hakikatnya aku tahu ia tak selama mana. Aku mahu realiti indah, aku mahu bidadari menemani, aku mahu sinar gembira dan aku mahu dibelai bahagia.

Salahkah aku mahu menumpang senyum di wajahmu, biar tak abadi tapi cukup menguntum bunga di hati. Salahkah aku menagih dan menghulurkan harapan padamu? Salahkah aku untuk mencuri sedikit kebahagiaanmu? Salahkah untuk semua itu?

Lama benar dikurung derita, hingga pungguk benci melihat wajahku. Bulan yang menjadi bintang hati pungguk, beralih arah menemani sepi sepiku. Maaf pungguk, aku tak bisa lari dari mengharap kasih bulan itu. Salahkah kita pungguk? Mengharap pada yang tak pasti, yang yakin hanya doa dan redha pada Illahi.

Aku tidak mahu lagi berselindung, aku tidak mahu lagi diburu, aku tak mahu lagi terperuk dalam noda noda lesu yang melemahkan jiwa. Aku mahu bangun dan kuat bersama semangatmu, jika kau mahu pinjamkan ia padaku. Aku mahu bernafas dalam setiap doa yang kau utus, aku mahu berbantalkan kasihmu, jika kau mahu berkongsi ketenanganmu.

Kasih ini hanya satu, aku tak minta dua atau tiga. Meniti hari untuk melihat dan membahagiakanmu, mercu impian hariku. Maaf jika kau resah, aku tak rela melihat kepahitan itu. Mari genggami tanganku, bawa aku tersenyum dan nyahkan penderitaan kisah lalu. Aku hanya mahu mendampingimu.

Jika bisa kau lihat ke sudut sulit kamar hatiku, kau tak bisa percaya kejujuran dan keikhlasan hatiku. Moga Allah swt merawati luka luka kita dan mencampakkan cahaya gemilang dalam perjalanan menuju hari kematian.


Friday, May 30, 2008

~~Chapter Baru?~~

Buku itu terlalu tebal untuk aku khatam dan telan chapter demi chapter. Adakalanya lelah mencari makna dalam kamus hidup tentang segala tersuratnya isi kandung. Bagaimana untuk ditelan dan menelan sesuatu yang bisa mencuri hati hati pedih kisah masa lalu? Buntu juga jiwa ini bila menggali rona sempit kisah lalu.

Teropong senja malam mencari dalam samar, teraba - raba kayaknya si rabun dekat. Mengupas perjalanan satu demi satu umpama mengupas kelopak bunga yang layu. Keras dan kusam bau nya bila kuntum bunga merebah malu, ibarat bicara hati yang sering persoalkan nada buntu.

Apa yang membelit dan terbelit ini? Apa yang mencarik dan tercarik ini? Apa yang mengikat dan terikat ini? Segalanya hampir terlerai.

Aku mahu bicara, mahu kongsi cerita. Tunggu babak baru yang tebarkan warna ceria. Sabar menjamah ketukan jemari di papan kekunci, muntahkan rahsia hati. Sabar ya...

~~Nota Sejarah "Hatiku Girang"~~

Mendung mega semakin berarak laju
Melihat garis lintang cahaya mentari
Berkepulan putih biru awan gemawan
Membedah bumbung langit

Sesekali terlihat sekawan burung berterbangan
Riang di selubungi kabus petang
Redup dalam semboyan kicauan
Bebas merangkul dada langit bercumbu di awan

Terkilas luas bendang
Tenang dalam santapan mata menghijau
Meliuk malu ditiup bayu
Di temani si burung berkaki runcing itu

Bila malam menyinggah tabir
Sejuk bayu masih kurasakan dingin
Rembulan berseri merenung ku lagi
Dibisikkan pada pungguk "kau tak bersendiri lagi"

Ku tembusi rona pekat awan malam
Bintang sibuk memancar suria
Menjadi babak dalam puisi tinta
Menulis nota sejarah "hatiku girang"

Jangan berlalu lagi
Rindu kuntum kuntum hati
Kasih berbunga wangi
Temani mimpi dan realiti

Jangan berlalu lagi
Usah pinggir hati ini
Yang setia mendakap sesuci kasih

Wednesday, May 28, 2008

~~Kau Mahu Tahu?~~

Aku rindu musim bunga
Di tengah padang Hyde Park
Melihat kuntum kuntum memutik megah

Diwarnai biru langit angin damai

Aku rindu musim bunga
Ingin ditemani putera hati
Melihat redup matanya
Mendakap susuk tubuhnya

Di petang musim bunga itu
Aku mahu berjalan menitip gigian pantai
Disaluti susuk baju tebal
Dalam rangkulan kemas cintanya

Di petang musim bunga itu
Ingin kubisikkan halus ke corong telinganya
"Aku yang mati hidup kembali"
"Kau yang merindu kembali bersatu"

Disaksikan guguran daun merimbun
Dalam berputik bunga hati
Kau mahu aku katakan
Apa yang mencuri isi hatiku...

Dari redup matamu
Dalam tenang bicaramu
Lirik manis senyummanmu
Sejuk salju perhatianmu
Buatku tak ingin pulang dari menatap keindahan itu

Di redup petang musim bunga itu
Aku mahu terus memimpin jemarimu
Mewarnai hari kusut yang lalu
Agar tak lagi diselubungi buntu

Usah berlabuh kasihmu
Biar di akhir musim bunga
Berlalu gugus salji
Aku mahu terus mendakap kasihmu

Tuesday, May 27, 2008

~~Pesanan Ini Untuk Semua~~

Salam penuh tanda kasih buat pembaca yang tak henti henti mengasak Nini mengutus cerita di papan maya. Penghubung kasih antara kita sentiasa akan terpatri di sebalik bait kata yang dikait.

Apa khabar kalian di balik sana? Apa mungkin sedang dalam keasyikkan dan kebahagiaan? Atau mungkin sedikit gusar dan terguris hatinya? Usah kalian bimbang, jika luka ia pasti akan sembuh, jika bahagia kita yakinkan agar ke akhir jodoh.

Apa cerita di dunia Nini? Wah, begitu banyak persoalan dan tanda tanya. Entah habis dibicarakan atau tidak, entah enak didengar atau tidak, entah asyik dilayar atau berbalam. Segala yang pasti, Nini pasti setia menemani kalian biar apapun cerita di balik nurani.

Owh ya, marilah berselingkuh bersama Nini dalam bual bicara POLITIK anak muda di www.anwaribrahimclub.com/forum. Asyik benar cerita celetoh anak muda hari ini, umpama mereka telah di asah parang dan belantan. Mungkinkah perbezaan alunan zaman buatkan mereka lebih gemar memberontak dari menurut kata? Aduh, sesekali bikin pusing juga minda ini, anak muda semakin pintar dan yang tua semakin gusar. Oleh itu mari ke sana melihat perdebatan anak muda yang cintakan negaranya.

Terus dalam aroma cerita kita di sini, tertanya tanya rakan di luar sana apakah ceritanya NOVEL sulung Nini? Ya, sabar sabar... Nini masih mengupas waktu melayari sendu mencari bait bait indah untuk dikongsi bersama. Apa kalian tidak yakin dengan kata kata Nini? Usah begitu, kerna Nini tak mungkin tumpas kotakan janjinya selagi ada usaha.

Akhir akhir ini, percaturan duniawi buatkan tak lepas lelah di hati. Ada sahaja ceritanya, banyak pula ragamnya malah entah mengapa asyik tersadung sahaja kaki ini. Namun biar apapun melaung, Nini bahagia bila melihat anak kecil bernama FARYSH itu senyum dan tertawa. Musnah segala derita, terubat segala luka.

Berita ini biarpun sekadar sampaikan pesanan, tapi biarlah Nini dekati lagi hati kalian dengan salam penuh tanda kasih. Apa mungkin nafas ini bisa turun naik lagi esok hari? Jika ya, maka nantikan chapter ringkas Novel Nini yang tidak lama lagi mahu bersiaran terus di pasaran.

Di sini tanda akhir, bukan akhir jalan cerita, bukan akhir kata kata, tapi hanya akhir sebuah tinta. Esok pasti menari lagi jemari ini di pentas kekunci, hanya menghantar berita buat kalian yang tak lekang dari hati Nini.

Wassalam

Sunday, May 25, 2008

~~Mana kamu si Pari Pari~~

Perjalanan bukan lagi warkah sepi, aku mahu terus bangkit dan merempuh sesak jalan ini dengan hati penuh girang. Kata orang, 'u deserve to be happy' biarpun adakalanya aku termangu dengan retorika ayat itu. Bukan tidak mengharapkan senyum, adakalanya yang sering menghantui adalah kegelapan bibit gelita perjalanan lalu.

Don't feel bad, wake up and wipes all your tears! Aku sering mendengar kata itu dihambur dan terus dihambur walau hakiki yang nyata aku sedar bukan mudah mencarik bingkai luka yang menyelinap di salur hati.

Di jalanan akulah gagah, meredah pintu pintu kebebasan hingga tak gentar diasak polisi yang bersenjatakan cota atau belantan. Di mata mereka, aku ini tak ubah gayanya seperti si Tun Teja yang membela, namun apa bisa mereka renung ke dasar corong hati yang mahukan senyuman sentiasa diukir?

Kalau bisa kulewati semalam yang berlalu, kuhapuskan segala cela noda. Aku tak mahu terusan dihambat buntu, mencari sesuatu yang hilang merempuh perjalanan yang kosong tak bernada. Aku mahu bangun menuntut hak hati ini, walau adakalanya tak bisa untuk mengangkat telapak kaki.

Maaf ya teman, lama sudah tidak hadir bicara puisi, yang ada cuma ceritera hati yang semakin sendat di asak jemari. Aku seolah hilang bisa menari di pentas puisi. Nah, hari ini aku ada sedikit coretan buat laman puisi. Harapnya, kalian tidak lagi terus berharap dan hampa.

Di lantai itu bukan hanya air mata
Bercorak warna dalam penuh cerita
Apa bisakah terasing corak derita
Dalam alunan citra ceria

Kalau kontang dikali bisa dipenuhi rembesan hujan
Jika sepi gelita malam pasti teruja sinaran bintang
Andai terik sinar mentari akan hadir cahaya ketenangan
Apa mungkin tenat dihati akan ada penawar terpatri?

Lirikan itu penuh sinis
Mencarik hati yang merintih
Kapan ada sebutir kasih
Buat segala debu gering

Aku hilang sengat
Tatkala jemari lemah longlai
Mana si pari pari yang sering hadir
Aku rindukan kamu yang sering meminggir

Bawalah aku terbang
Seperti hari hari semalam
Melihat kocak kancah kehidupan
Yang penuh kemelut kepedihan

Teman yang rindukan kata jemari, aku minggir mengalun hati. Kau usah bimbang tentang gelora ini, kerna aku masih terus dalam alunan suara puisi. Nanti aku nyanyikan lagu rindu yang akan bawa kalian terbang bersamaku dalam tiupan si pari pari.


~~Sesepi burung rindukan bulan~~

Gemersik lunak burung berkicau menghentikan sayup pekat malamku. Hujan lebat dalam sendu sendu diiringi serak kilat melagukan syahdu. Aku berdiri di balik tirai jendela merenung ke arah bulan yang sering kurindui. Pekat malam ini sambil ditemani hujan renyai pastinya menenggelamkan wajah bulan dari bingkai mataku. Aku rindu bulan itu.

Eh! Dari mana datangnya lunak burung berkicau? Dalam sejuk salju begini apakah masih berteduh di ranting pokok sambil meninjau kepekatan malam? Aku resah mencari suara lunak itu, ku intai de sebalik rimbunan pokok gelita, tak ku temui. Apa tersangkut dan tersadung di balik lalang atau terkulai di dahan tinggi? Ku amati lagu kicau itu sambil dicelah garau kilat.

Apa mungkin burung jua rindukan bulan? Menanti hingga berhenti pekat awan? Melagukan sendu bertemu bintang bertaburan? Atau mungin menemani aku yang terpinggir di balik jendela kehidupan? Sejuk dingin angin menghempas tak dihiraukan. Terus menangguk di sebalik kegusaran malam, sang burung terus mengicau hingga sayup sayup kedengaran.

Aku merenung ke langit hitam, ku lihat awan itu terus berkepul gelap. Hati berkata, malam ini aku tidur dalam pelukan hujan, tiada bertemankan bulan hanya guruh melewati hujung lena. Ku bisikkan pada sang burung, kau usah lagi melagukan rindumu. Bulan di awan tak kunjung jelang, mari lenakan aku yang dihambat kesepian.

Bulan, esok hadirlah kamu menemani sepiku dan burung yang merinduimu. Aku mahu terus menatap gemilang warnamu kerna dingin renyai ini buat kami tak lena diulit mimpi indah.

Friday, May 02, 2008

~~Warkah Buat Farysh Lagi. Apa Dia Bisa Membaca?~~

Perjalanan ini sungguh benar banyak likunya, hingga aku sering tersesat mencari arah tanpa panduan. Kiri dan kanan, fatamorgananya sama panjang dan suram namun aku redah dalam penuh berhati.

Jatuh bangun, jatuh lagi dan bangun lagi malah tersungkur hingga luka lutut di kaki semuanya aku telan penuh redha. Keringat tumpah seiring lajunya dengan airmata jatuh sembah ke bumi tetap ku rentasi. Aku akan terus bangun biarpun ketika itu mereka tertawa melihat aku terjelepok di tanah rata.

Andainya tiada siapa harus menyambut tanganku, aku tetap bahagia dan tersenyum meredahi ranjau liku ini dan di depan sana aku yakin tersedia lembah gembira. Masih ingat akan anak kecil yang ku panggil farysh? Si comel yang sentiasa menemani hari hari sepiku itu membawa sebutir sinar tiada galang gantinya. Dari matanya kulihat segala cinta, aku mahu terus mendakap dan mengucupi lembut gebu pipi itu hingga satu hari nanti ia bertukar gerutu di telan perubahan hormon, tetap ingin ku landaikan bibirku mengucupi pipinya.

Mungkinkah dia bisa mengerti aku ini amat mencintainya? Dia bukan siapa siapa, tak bisa bicara, tak bisa mengerti tuturku namun melihat bibir rekah senyumannya buat aku dilamun cinta. Farysh, ku anggap seperti anak sendiri bukan lagi atas nama anak saudara yang berbinkan Kamal Amirul Mukminin.

Pergilah segala sengketa, aku kini menemui cinta bahagia. Entah benar entah tidak aku akan hidup seribu tahun lagi, tapi kata itu sering kulafaskan tatkala kuhayun tangan mendodoinya. Mengapa cemburu benar derita? Setiap kali aku bercanda dalam bahagia, pasti hadir cemburu derita itu menganggu kebesaran girang.

Farysh, entah bila aku harus pergi, kau usah tangisinya kerna aku pasti nantikanmu di syurga. Kau harus tahu betapa indahnya hidup ini jika hatimu diisi penuh cinta yang ikhlas. Senyumlah sayang, senyum yang sentiasa menguntum bunga cinta di hati mama, papa dan kami semua.

Bicaraku biarpun tak bisa kau baca, aku sering bisikannya bila masa dodoiku sentiasa menemanimu. Kuoles - oleh gebu pipimu dan dengan penuh rasa kasih ku dakap segala lelahmu. Kasihnya aku padamu tak bisa ada tandingannya.

Derita, berlalulah segera. Aku mahu terus gembira, di dampingi insan yang kucinta. Aku yang kini mati rasa cukup bahagia di sisi insan insan yang memberikan ruang untukku menumpang kasih dan melayari sayang.


~~Bulan Dodoikan Malamku~~

Kalau bulan itu sering menjadi peneman erti rindu, aku mahu tidur dalam cahayanya dan bangun bersama gemilangnya. Kalau bulan itu penawar hati lara yang sengketa, aku mahu merangkul bentengnya agar bisa kusandarkan resah hati penuh duka. Kalau bulan itu bisa menemani pungguk gerhana, dodoikanlah aku lagu gembira agar pergi segala sengsara.

Aku sering merenungmu bulan, bicara bersamamu bawa erti segala bahagia. Tiap kali kau terlitup oleh awan kelabu, aku resah hingga murung lenaku. Aku mahu sentiasa melihat wajah penuh yang menguit jiwa. Kau sentiasa di temani unggas, lagu cengkerik bawa sinonim perjalanan malammu. Aku cemburu dan menjeling ke arahmu kerna tiada siapa yang temani malam sunyiku.

Oh bulan penuh cerita, kalau aku bisa mengucupi sinaranmu, mahukah kau menjadi pendamping surut dinihariku? Aku rindu segala bisikan yang membawa ke arah bahagia. Ku dongak ke arahmu, setiap malam mencari di mana kamu hingga tersidai di jendela tak mahu berpaling dari merenungmu. Bulan yang penuh, kau milik sang pemuitis malam, sinaranmu bisa memandu arahku, hembusan awan kelabu bawa ceritera meniti gerutu jalanan cintaku.

Kau mahu berjanji denganku bulan? Agar sentiasa temaniku tanpa bintang bertaburan di dadamu? Agar sentiasa dodoikan aku dengan kekasihmu cengkerik unggas malam? Kurenung wajahmu jauh nun di sana hingga robek firasat. Aku mahu terus ditemanimu bulan biarpun bila mentari menyinar, kau ada di balik sana.

Monday, April 21, 2008

~~Aku Mahu Pulang~~

Bila langit mula mendung, sering ku bisikkan janganlah limpahkan hujan pilu buatku. Sinarkan semula terik mentari yang menceriakan hari hariku. Perjalanan penuh dengan langkah berhati hati, sekejap sekejap memandang ke langit kelam. Apa runtuhkah langit itu dengan air yang bisa menyapu sepi hati ini? 

Berteriakkan burung lari pulang ke sarang, aku di padang sahara masih mencari ruang berteduh tanpa bumbung, tiang dan konkrit batu. Apa pun, langkah tak bisa kuhentikan. Dentuman guruh menggeletarkan jiwaku, takut takut dipanah dan hangus. Aku lantas tawakal jika berakhir nyawaku, berilah peluang untukku mencium bau syurga.

Sarat dengan gelodak hati, angin petang masih mendung tak memberi erti. Aku kusut, sepi dan dibebani gusar. Air di langit tak tumpah lagi, sering menemani hanyalah airmata membasahi pipi. Keringat perjalanan di padang sahara ini juga tak kuhiraukan.

Sekuat mana aku bertahan, tiba tiba aku rebah. Tersungkur tersadung batu kecil yang berjeriji tajam. Ku dakap lantai merah penuh debu, kusembamkan wajah dalam tebaran pasir itu dan kujerit sekuat hati. Arghhhhhhhh..... aku mahu pulang! Aku mahu pulang...

Terlena dalam penat yang menyelubungi. Aku sedar dan masih di padang sahara bertemankan mendung awam menjadi langit rumahku. Lelehan airmata yang kering mula mengeras di pipi gebuku. Ku kesat segalanya, airmata yang kering, debu pasir yang bertepek. 

Siapa sudi pimpin aku pulang? Di tengah kesunyian ini? Teman yang sering bawa tawa tidak sudi lagi menyambut tanganku. Tuhan nan esa, bawa aku pulang. Izinkan aku merasa ertinya bahagia.

Di padang sahara ini, cendawan melata juga tak sudi menjengah keperitan hati. 

Aku mahu pulang...


Tuesday, April 08, 2008

~~Ku Bisik Padamu Jika Kau Masih Mahu Mendengar Bicaraku~~

Pemanis bibir pelembut kata, aku susuli dalam salam pertemuan buat kalian yang ketagihan menatap laman maya ini saban waktu. Assalammualaikum diserta pautan salam mesra.

Bosan dengan titian jalanan dilitupi tebal kesibukkan waktu. Bukan lagi berbaur cemburu, cuma pesanan ringkas dari waktu itu menghembus azimat agar bijak mengaturnya. Langit cerah bersilih ganti gelap pekat dinihari adakalanya membuatkan aku tersepuk di pinggir putaran masa memikirkan apa yang telah aku tempuhi lewat kitaran 24 jam ini. Serbanya tidak mengena dengan aturan sibuk diari kelabu.

Ku selit rona warna menceriakan laman maya yang kian sepi dengan ketukan jemari di atas papan kekunci. Terselit habuk kecil di celahnya mungkin kerna kurang berasmara dalam keempukan maya. Banyak yang ingin ku dedahkan dari liang kecil hati pada kalian, tapi kesuntukkan itu mencacatkan taman mayaku untuk menyentuhmu hati ke hati.

Sepertinya malamku kini kurang disemai baja subur kerinduan, aku ternanti akan hadirnya kedamaian sekeping hati yang gejolak di medan tempur sendiri. Entah di mana aku merentasi, sesat dan terkurung di rimbun lalang penuh duri. Torehan luka pedih itu membuatkan semangatku pudar dan api semaraknya tidak gah seperti lewat waktu itu.

Perjalanan ini semakin sempit ruangnya, gelombang sakti hilang bisanya, yang tinggal hanya saki baki semangat yang tak mungkin pupus. Ku lontar setiap isi amarah untuk siapa? Ku gegar kubu cinta? Untuk meredakan hati yang luntur cahaya? Cermin bukan lagi pantulan hidupku, kelopak air yang berbayang bayang itu sering melukis riak sebenar gusar hati insan kerdil ini. Kebingungan semakin menghimpun di benak hingga tidak bisa lagi ku jerit lepaskan amarah.

Jalanan kian parah, tempang kakiku mengheret perit derita, luka jiwa tiada lagi jalan penawar, buntu minda bergejolak dalam seribu bahasa. Apa aku tidak tahu erti jalan pulang? Siapa itu untuk bertanyakan apa yang aku rasa? Mengapa aku harus rungkai sejuta kata? Tak bisa kau mengerti tentang aku dalam dilema kotak serabut, bersimpul hingga terjerut, tersepit hingga menghimpit.

Kalian si peneman setia blog mariniberbicara, kau pasti tertanya apa sebenarnya kemelut yang kulontarkan ini, kau pasti jua terdetik untuk melapangkan dadamu agar bisa mendampingi keluhan hatiku, mungkin terbit jua di benakmu tentang aku yang semakin berbelit liku hidupnya. Nah biar aku rakus menebar isi hati, aku sendiri tidak tahu apa yang menyulitkan hati untuk terus mengacu langkah sedang landasan sudah terbentang indah.

Mencari sekeping kepercayaan dalam harungi cinta tiba tiba mati tidak bernyawa. Aku kejam menghukum insan tidak berdosa namun aku kini mati segala rasa cinta. Bagaimana? Apa ada sisa itu untuk terus menerkam dan mengoyakkan kembali benteng ketakutan itu? Buntu dan bingung dalam ombak besar penuh rakus di lebarnya lautan.

Di hujung puncak gunung derita, aku kaget melihat suram landai bahagia. Terlalu tinggi aku terbang dan gayat untuk pulang berpijak di bumi nyata. Tali itu terputus di saat bahagia sedang melayang layang menerajui segala rasa. Maaf tidak cukup, ampun tidak ampuh, tangisan tidak layak menceritakan kekusutan itu.

Di akhir perjalanan ini, aku hanya mahu bertapa di gunung derita dan mencari penawar bahagia. Izinkan setiap saat di puncak ini mendapat sayu berita dari sang burung yang setia menghantarkan khabaranmu di curam gelisah. Moga moga, tali yang tersimpul bisa terurai, kekalutan kian terlerai dan kemarakkan api cinta bisa meletus bak merapi di seberang sana.

Antara bingungmu dan lukaku, racunmu dan malapku, patah hatimu dan kekalutan jiwaku biar kita serahkan pada Esa yang menentukan apa arah dan ke mana tuju episod esok yang bakal kau dan aku tempuh.

Bakal ku susuli dalam lembaran baru cerita hebat gerakkan anak muda pemangkin perjuangan rakyat dalam mencatur strategi membela suara marhaen. Anwar Ibrahim Club kian pantas langkahnya dengan pucuk pimpinan baru. Lama tidak bererti reput, ia harus di simpan dalam kotak mumia agar yang pahit di kuburkan dan yang manis di kenang.

Salam Takbir di akhir bicara!!!!
ALLAHU AKHBAR...ALLAH MAHA BESAR